MAKALAH
POSISI
INDONESIA SEBAGAI POROS MARITIM DUNIA
GURU PEMBIMBING : USWATUN HASANAH S.Pd.
OLEH
:
ACHMAD
NAILU ROSYAD
FIRMAN
DANIL AQILI
GALIH
BUDI RAMADHAN
MUHAMMAD
DZAUB NABIL FALAHI
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara
kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Disebut kepulauan karena
tentu Indonesia memiliki banyak pulau. Di antara pulau-pulau tersebut terdapat
lautan yang membentang luas. Faktanya 70% wilayah Indonesia adalah laut. Di
sinilah letak kelebihan kita. Sebagai negara yang memiliki kekayaan maritim
yang sangat melimpah. Dan kita sebagai rakyat Indonseia harus dapat
memanfaatkannya dengan baik.
B.
RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang
penulis buat adalah
1.
bagaimana letak, luas, dan batas maritime Indonesia
baik secara politik maupun fisik?
2.
bagaimana karakteristik wilayah daratan maupun lautan
Indonesia?
3.
bagaimana sejarah dan perkembangan jalur transportasi
dan perdagangan internasional di Indonesia?
4.
bagaimana potensi dan pengolahan sumber daya kelautan
di Indonesia?
5.
bagaimana dengan keadaan wisata bahari Indonesia?
6. bagaimana
kita memanfaatkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia?
7. apa
yang harus dilakukan agar segala masalah kemaritiman negara ini terselesaikan?
C.
TUJUAN MASALAH
Adapun tujuan masalah yang penulis
buat adalah
1.
untuk mengetahui letak, luas, dan batas maritime
Indonesia baik secara politik maupun fisik
2.
untuk mengetahui karakteristik wilayah daratan maupun
lautan Indonesia
3.
untuk mengetahui sejarah dan perkembangan jalur
transportasi dan perdagangan internasional di Indonesia
4.
untuk mengetahui potensi dan pengolahan sumber daya
kelautan di Indonesia
5.
untuk mengetahui keadaan wisata bahari Indonesia
6.
untuk mengetahui cara kita
memanfaatkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia
7.
untuk mengetahui hal yang harus
dilakukan agar segala masalah kemaritiman negara ini terselesaikan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
LETAK, LUAS, DAN
BATAS MARITIM INDONESIA
Letak, luas, dan batas
Maritim Indonesia dibagi dua yaitu secara politik dan fisik.
1.
Letak Maritim Indonesia
Letak Indonesia dibagi menjadi 2
yaitu secara asrtonomis dan geografis.
Secara
astronomis Indonesia yaitu 6°LU-11°LS dan 95°BT-141°BT. Sedangkan secara
geografis diantara 2 samudra yaitu Hindia dan Pasifik serta diantara 2 benua
yaitu Asia dan Australia.
2.
Luas Maritim Indonesia
Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570
km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Dan dengan batas-batas sebagai berikut
:
Utara :
Pulau Rando 6°LU-95°BT , Pulau Sekating 5°LU, dan Pulau Miangas 4°30’LU
Barat : masih berbatasan dengan Pulau Rondo
Selatan : Pemana (Selatan pulau Roti) 11°LS -123°BT
Timur : Wilayah DAS Fly di Papua 141°BT
3.
Batas Maritim Indonesia
Batas wilayah Indonesia dibagi
menjadi 2 yaitu secara politik dan secara fisik.
Batas Politik,
dilandaskan berdasarkan :
· Kesepakatan 1824 antara Beanda dan
Kerjaan Inggris , dalam membagi wilayah kekuasaan
· Keputusan Pengadilan tetap
Internasional tahun 1928
·Ordonasi 1939 (Teritorial ZEE en
Maritim Kringen Ordonantie), pembagian wilayah laut berdasarkan Laut Teritorial
dan Laut Pedalaman
· Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957
tentang lebar wilayah laut dinyatakan 12 mil
· UU no 7 tahun 1976 tentang pengesahan
penyatuan Timor Timur ke NKRI
· Konvensi Hukum Laut Internasional
Tahun 1982, membagi jenis batas laut berdasarkan batas laut territorial, Batas
Landas Kontinen, dan ZEE.
Batas
Fisik
Merupakan
batas wilayah indonesia berdasarkan daratan dan perairan. Dan batas
Negara Indonesia yaitu :
Utara
: Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km,
Singapura, Filipina, dan Laut Cina
Selatan
Selatan : Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra
Indonesia
Barat : Samudra Indonesia
Timur :
Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km, Timor Leste, dan
Samudra Pasifik
B.
KARAKTERISTIK
WILAYAH DARATAN DAN PERAIRAN INDONESIA
a. Karakteristik
Wilayah Daratan
Dibagi menjadi dua:
1. Sirkum Mediterania
Sirkum
Medetarian berawal dari Pegunungan Alpen di Eropa kemudian menyambung ke
pegunungan Himalaya di Asia lalu memasuki Indonesia melalui Pulau Sumatra.
Jalur Sirkum Medetarian di Indonesia membentang dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali,
Nusa Tenggara, dan Maluku. Di Indonesia Sirkum Meditarian di Indonesia terbagi
menjadi dua Busur, sebagai berikut :
·
Busur Dalam
Vulkanik
Busur dalam dari rangkaian Meditarian
bersifat vulkanis. Yang menyababkan banyak Gunung api aktif di sekitar
rangkaian Sirkum Meditarian. Contoh gunungapi tersebut adalah :Gunung Kerinci,
Gunung Leuseur,dan Gunung Krakatau
·
Busur Luar
Nonvulkanik
Busur luar dari rangkaian Meditarian
tidak bersifat vukanis. Busur luar sirkum Meditarian membentang di pantai barat
Sumatra, seperti Pulau Simeul, Nias, Mentawai, dan Enggano, pantai selatan
Jawa, dan pantai selatan Kepulauan Nusa Tenggara.
2. Sirkum
Pasifik
Sirkum
Pasifik berawal dari dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan, lalu bersambung
ke pegunugan Rocky di Amerika Utara, lalu ke Jepang, Filipina, sampai akhirnya
sampai ke Indonesia melalui Sulawesi. Sirkum Pasifik juga bercabang ke Pulau
Halmahera dan akhirnya sampai di Papua.
Di sepanjang dua jalur ini membentang
gunung api aktif yang siap mengeluarkan muntahan abu vulkanik kapan saja.
Hampir seluruh wilayah di Indonesia dilalui kedua jalur ini, hanya Pulau
Kalimantan yang tidak. Itu sebabnya tidak ada gunung api di Pulau ini dan
wilayah ini aman dari gempa.
b. Karakteristik
Wilayah Lautan
Berdasarkan kedalamannya, laut terbagi
menjadi beberapa zona kelautan, seperti :
1. Zona
Litoral (Wilayah Pasang Surut)
Zona
litoral adalah zona atau wilayah laut yang apabila pada saat terjadi air
pasang, wilayah ini akan tergenang oleh air, dan pada saat terjadi air surut,
wilayah ini akan mengering dan berubah menjadi pantai. Oleh karena itulah maka
zona ini seringkali disebut dengan daerah pasang surut. Pengaruh suhu udara
serta sinar matahari yang terdapat pada zona litoral sangat kuat. Menjadikan
zona ini sebagai habitat bagi beberapa spesies aut seperti bintang laut, udang,
kepiting, cacing, serta bentos.
2. Zona
Neritik (Laut dangkal)
Zona
Neritik adalah wilayah perairan dangkal yang terletak dekat dengan pantai.
Kedalaman dari zona ini adalah berkisar antara 50 hingga 200 meter. Kawasan ini
dapat tertembus sinar matahari dengan sangat baik, sehingga menjadikannya
sebagai habitat yang sangat cocok bagi berbagai jenis spesies laut seperti
ubur-ubung, fitoplankton. Zooplankton, rumput laut, serta jenis spesies
lainnya.
3. Zona
Bathial (Laut Dalam)
Zona
Bathial merupakan Wilayah perairan yang memiliki kedalaman yang berkisar antara
200 hingga 2000 meter. Wilayah ini tidak dapat ditembus oleh sinar matahari.
Hal tersebutlah yang menjadikan kehidupan diwilayah zona bathial tidak seramai
di zona neritic.
4. Zona
Abisal (Laut sangat Dalam)
Ini
merupakan bagian laut yang memiliki kedalaman lebih dari 2000 meter. Wilayah
ini memiliki suhu yang sangat dingin.
Hal inilah yang menjadikan zona abbisal hanya memiliki beberapa spesies hewan
laut. Dan di zona ini tidak dapat ditemui spesies tumbuh-tumbuhan laut. Contoh
spesies yang dapat hidup di zona ini adalah angler fish, dimana biota laut
tersebut dapat menghasilkan cahaya sendiri untuk berkomunikasi.
C.
SEJARAH DAN
PERKEMBANGAN JALUR TRANSPORTASI DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL DI INDONESIA
Alur
perkembangan jalur transportasi dan perdagangan adalah sebagai berikut:
1. Masa
Kerajaan Sriwijaya
Perkembangan
dalam perdagangan internasoinal pada zaman Kerajaan Sriwijaya, megalami
peningkatan hal ini dikarenakan strategisnya tempat Kerajaan Sriwijaya yang
menjadi jalur lalulintas pelayaran perdagangan India – China.
Dilihat
dari letak geografis, daerah Kerajaan Sriwijaya mempunyai letak yang sangat
strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran perdagangan antara India dan
Cina Sehingga aktivitas perekonomian masyarakatnya tergantung pada pelayaran
dan perdagangan. Di samping itu, letak Kerajaan Sriwijaya dekat dengan Selat
Malaka yang merupakan urat nadi perhubungan bagi daerah-daerah di Asia
Tenggara.. Dengan demikian kedudukan Sriwijaya dalam perdagangan internasional
sangat baik. Hal ini juga didukung oleh pemerintahan raja yang cakap dan
bijaksana seperti Balaputradewa. Pada masanya Sriwijaya memiliki armada laut
yang kuat yang mampu menjamin keamanan di jalur-jalur pelayaran yang menuju
Sriwijaya, sehingga banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di
wilayah kekuasaan Sriwijaya tersebut.
Kerajaan
Sriwijaya mampu menguasai lalu lintas
pelayaran dan perdagangan internasional selama berabad-abad dengan menguasai
Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa.
2. Masa
Penjajahan Portugis ( 1509 – 1659 )
Perjalanan
historis Portugis dalam menjajah Indonesia dimulai dengan ekspedisi eksplorasi
yang dikirim dari Malaka yang baru ditaklukan dalam tahun 1512. Bangsa Portugis
merupakan bangsa Eropa pertama yang tiba dikepulauan yang sekarang menjadi
Indonesia, dan mencoba untuk menguasai sumber rempah-rempah yang berharga dan
untuk memperluas usaha misionaris Katolik Roma.
Bangsa
Portugis adalah bangsa yang mempunyai keahlian dalam navigasi, pembuatan kapal,
dan persenjataan. Selain itu, bangsa Portugis adalah salah satu bangsa yang
menjadikan perdagangan (khususnya rempah-rempah) menjadi komoditi ekonomi .
pada masa penjajahan Portugis, kondisi perekonomian Indonesia lebih banyak
diwarnai adanya perlawan dari rakyat terhadap Portugis, karena komoditi
rempah-repah yang menjadi andalan rakyat Indonesia dijarah begitu saja. Sumber
daya yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat, menjadi bagian dari ekspolitasi
Portugis.
3. Masa
Penjajahan Belanda ( 1602 – 1942 )
Belanda
masuk ke Indonesia pada tahun 1602. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan
perpecahan diantara kerajaan-kerajaan kecil yang telah enggantikan Majapahit.
Satu-satunya yang tidak terpengaruh adalah Timor Portugis, yang tetap dikuasai
Potugal hingga 1975 ketika bertintegrasi menjadi propinsi Indonesia bernama
Timor Timur.
Penjajahan
Belanda belangsung kurang lebih selama 350 tahun, 3,5 abad. Dibentukya
Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) adalah satu kebijakan dalam bidang
ekonomi yang dilakukan Belanda. VOC menguasai perdagangan, sehingga kewenangan
dimilikny, seperti mencetak uang, menyatakan perang dan damai, membuat angkatan
bersenjata sendiri, dan membuat perjanjian dengan raja-raja. Pada tahun 1795
VOC dibubarkan karena dianggap gagal dalam mengekspolarasi kekayaan Hindia
Belanda (Indonesia). Kegagalan itu Nampak pada defisitnya kas VOC, yang antara
lain disebabkan oleh :
a. Peperangan
terus-menerus dilakukan oleh VOC dan memakan biaya besar.
b. Penggunaan
tentara sewaan membutuhkan biaya besar.
c. Korupsi
yang dilakukan pegawai VOC sendiri
d. Pembagian
deviden kepada para pemegang saham, walaupun kas defisit.
Bubarnya
VOC muncul kebijakan baru yang disebut dengan cultur stelsel (sistem tanam
paksa). Kebijakan ini diberlakukan mulai pada tahun 1836 yang diinisiasi oleh
Van Den Bosch.
Sistem
tanam paksa bertujuan memproduksi berbagai komoditi yang diminta dipasar dunia.
Sistem ini sangat merugikan bahkan menyiksa, tetapi bagi Belanda sangat
menguntungkan. Kemudian diganti dengan VOC (sistem tanam paksa) dahulu sistem
landrent , sistem ini juga ada sisi positifnya, yaitu masyarakat pribumi mulai
mengenal tata cara menanam tanaman komoditas ekspor yang pada umumnya bukan
tanaman asli Indonesia, dan masuknya ekonomi uang di pedesaan yang memicu
meningkatnya taraf hidup.
Setelah
melakukan sistem tanam paksa, kemudian menerapkan Sistem Ekonomi Pintu Terbuka
(Liberal). Kebijakan ini dilakukan kaerna desakkan kaum Humanis Belanda yang
menginginkan perubahan nasib warga bumi kearah yang lebih baik dengan memdorong
pemerintah Belanda mengubah kebijakan ekonominya. Pada jaman penjajahan
Belanda, bangsa Indonesia ibarat hanya dapat menerima sisa dari kekayaannya
sendiri. Segala sumber daya dikeruk bagi keuntungan Belanda.
4. Masa
Penjajahan Jepang ( 1942 – 1945 )
Konstelasi
peta politik pada masa perang dunia II nampaknya berimbas pada konstelasi
politik di Indonesia, durasi penjajahan Jepang di Indonesia tidak berlangsung
lama, karena hanya berjalan hingga sekitar tahun 1945. Secara besar penjahan
Jepang di Indonesia diawali pasa bulan juni 1942. Bulan Maret 1945 Jepang
membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Pertemuan pertamanya pada bulan Mei, Soepomo membicarakan integrasi nasional
dan melawan individualisme perorangan. Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan
radjiman Widioningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi.
Kebijakan ekonomi pada jaman penjajahan
Jepang, terdiri atas :
1.
Perluasan Areal Persawahan
2. Pengawasan Pertanian Dan Perkebunan.
Perluasan areal persawahan guna meningkatkan produksi
beras. Meskipun demikian produksi pangan antara tahun 1941-1944 terus-menurun.
Pada jaman Jepang hasil pertanian diatur sebagai berikut: 40% untuk petani, 30%
harus dijual kepada pemerintah Jepang dengan harga yang sangat murah, dan 305
harus diserahkan ke lumbung desa. Badan yang menanganimasalah pelanggaran
disebut Kempetei (Korps Polisi Militer), suatu badan yang sangat ditakuti
rakyat. Jepang mengizinkan dua jenis tanaman perkebunan yaitu karet dan kina
kedua jenis tanaman itu berhubungan langsung dengan kepentingan perang.
Sedangkau tembakau, teh, kopi harus dihetikan penanamannya Karena hanya
berhubungan dengan kenikmatan. Jepang menduduki Indonesia hanya tiga tahun
setengah, sedangkan Belanda menjajah Indonesia selama tiga abad.
5. Masa
Orde Lama ( 1945 – 1967 )
Perekonomian
Indonesia pada masa orde lama perlu dicermati karena pada masa tersebut,
Indonesia merupakan Negara yang baru saja merdeka. Dalam masa ini, perkembangan
perekonomian dibagi dalam 3 (tiga) masa, yaitu :
6. Masa
Kemerdekaan ( 1945 – 1950 )
Keadaan
ekonomi pada masa awal kemerdekaan dapat dibilang sangat tidak menggembirakan.
Hal itu terjadi karena adanya inflasi yang disebabkan oleh beredarnya lebih
dari satu mata uang secara tidak terkendali. Oktober 1946 Pemerintah RI
mengeluarkan ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang,
namun adanya blockade ekonomi oleh Belanda dengan menutup pintu perdagangan
luar negeri mengakibatkan kekosongan kas Negara. Akibatnya Negara berada dalam
kondisi krisis keuangan dan kondisi itu tentu membahayakan bagi keberlangsungan
perekonomian Indonesia pada saat itu.
Dalam menghadapi krisis tersebut,
pemerintah menempuh beberapa kebijakan, yaitu :
1. Pinjaman Nasional
Pinjaman nasional dilakukan oleh menteri keuagan kala
itu dengan persetujuan Badan Pekerja Komiter Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP)
mengadakan pinjaman nasional yang akan dikembalikan dalam jangka waktu 40
tahun. Pinjaman ini dimaksudkan agar tersedia dana segar bagi operasionalisasi
penyelenggaraan Negara.
2. Pemenuhan Kebutuhan Rakyat
3. Melakukan Konferensi Ekonomi
Pembahasan mengenai peningkatan hasil produksi pangan,
distribusi bahan makanan, sandang, serta status administrasi perkebunan asing
dilakukan melalui konferensi ekonomi.
4. Membuat Rencana Pembangunan
Dibuat
Rencana Lima Tahunan (Kasimo Plan) untuk melengkapi pembahasan mengenai
peningkatan hasil produksi pangan, distribusi bahan makanan, sandang, serta
status perkebunan asing. Dalam dokumen ini meliputi anjutan memperbanyak kebun
bibit dan padi unggul, mencegah penyembelihan hewan-hewan yang membantu dalam
pertanian, menanami tanah terlantar di Sumatra, dan mengadakan transmigrasi.
5. Membangun Partisipasi Swasta Dalam
Pembangunan Ekonomi
Pemerintah berusaha menggandeng swasta untuk mewujudkan
rencana-rencana diatas.
6. Nasionalisasi Bank Indonesia
Selain kebijakan di atas, muncul pula kebijakan yang dikenal
dengan sebutan Sistem Ekonomi Gerakan Benteng dan Sistem Ekonomi Ali-Baba. Kondisi
perekomiman pada masa ini lebih banyak berkutat pada bagaimana menyelesaikan
permasalahan ekonomi dasar namun hal inipun juga tidak bisa berjalan dengan
baik akibat situasi politik yang tidak stabil.
7. Masa
Demokrasi Liberal ( 1950 – 1957 )
Ciri
utama masa Demokrasi Liberal adalah sering bergantinya kabinet. Hal ini
disebabkan karena jumlah partai yang cukup banyak tetapi tidak ada partai yang
memiliki mayoritas mutlak dan hal ini kemudian membuat pada masa ini
perekonomian diserahkan sepenuhnya kepada pasar. Dampak dari kebijakan ini
akhirnya hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia.
Pemerintah
terkesan memaksakan sistem pasar dalam perekonomian, anehnya pemerintah sudah
mengetahui dampaknya dan melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kondisi perekonomian.
Usaha-usaha tersebut adalah melalui pemotongan nilai uang, melanjutkan program
Benteng, dan memutuskan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Pemotongan nilai
uang dimaksudkan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga
turun, dikenal dengan sebutan Gunting Syarifuddin. Pemerintah juga melanjutkan
Program Benteng (Kabinet Natsir) dengan maksud untuk menumbuhkan wiraswasta
pribumi agar bisa berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional dan
pembatalan sepihak atas hasil-hasil KMB, termasuk pembubaran Uni
Indonesia-Belanda.
8. Masa
Demokrasi Terpimpin ( 1959 – 1967 )
Demokrasi
Terpimpin tidak lepas dari sosok Presiden Soekarno, sehingga pemikiran Soekarno
menjadi dasar bagi pelaksanaan demokrasi terpimpin. Dalam pidato beliau yang
berjudul Kembali ke Rel Revolusi terbitlah pemikiran Soekarno tentang demokrasi
terpimpin. Demokrasi Terpimpin benar-benar terjadi setelah muncul Dekrit
Presiden 5 Juli 1959. Mulai saat itulah Indonesia menjalankan sistem demokrasi
terpimpin. Akibat dari system ini berdampak pada perubahan struktur ekonomi
Indonesia yang akhirnya cenderung berjalan melalui system etatisme, dimana
dalam system ini Negara dan aparatur ekonomi Negara bersifat dominan serta
mematikan potensi dan kreasi unit-unit ekonomi diluar sektor Negara.
Tidak
menunjukkan kondisi perekonomian yang baik justru berdampak pada adanya
devaluasi (penurunan nilai uang yang tujuannya guna membendung inflasi yang
tetap tinggi, mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, serta agar
dapat meningkatkan nilai rupiah sehingga rakyat kecil tidak dirugikan),
perlunya membentuk lembaga ekonomi, dan kegagalan dalam bidang moneter. Pada
saat ini dibentuk pula Deklarasi Ekonomi, tujuannya untuk mencapai tahap
ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin.
9. Masa
Orde Baru ( 1967 – 1998 )
Masa
Orde Baru identik dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto. Dikenal beberapa
tahapan pembangunan yang menjadi agendanya. Orde Baru mengawali rezimnya dengan
menekankan pada prioritas stabilitas ekonomi, dan politik. Program pemerintah
berorientasi pada pengendalian inflasi, penyelamatan keuangan Negara, dan
pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi yang
baru melalui pendekatan demokrasi pancasila, dan secara perlahan campur tangan
pemerintah dalam perekonomian mulai masuk.
Pentingnya
aspek pemerataan disadari betul dalam masa ini sehingga muncul istilah 8
(delapan) jalur pemerataan sebagai basis kebijakan ekonominya, yaitu :
1) Kebutuhan Pokok
2) Pendidikan dan kesehatan
3) Pembagian pendapatan
4) Kesempatan kerja
5) Kesempatan berusaha
6) Partisipasi wanita dan generasi muda
7) Penyebaran pembangunan
8) Peradilan
Agar
implementasi kebijakan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan terencana,
maka kebijakan tersebut dilaksanakan dengan sebutan pola umum pembangunan
jangka panjang (25-30 tahun) dan berlangsung dalam periodisasi lima tahunan
sehingga dikenal dengan sebutan Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Pelita
menunjukkan hasil yang signifikan dalam proses pembangunan ekonomi, terbukti
pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, menurunkan angka
kemiskinanm meningkatkan partisipasi pendidikan, penurunan angka kematian bayi,
dan peningkatan sector industri, berhasil dalam mengendalikan jumpal penduduk
melalui program Keluarga Berencana (KB).
Sisi
negatif dari Pelita adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup,
kerusakan suber daya alam, ketimpangan pertumbuhan ekonomi antar daerah,
ketimpangan antar golongan pekerjaan, akumulasi utang luar negeri yang semakin
menumpuk serta muncul pula konglomerasi dan bisnis yang sarat korupsi, kolusi,
dan nepotisme.
Meskipun
Orde Baru berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi fundamental ekonomi
justru rapuh. Titik kulminasi keterpurukan Orde Baru berujung pada mundurnya
Soeharto dari kursi presiden pada tanggal 21 Mei 1998.
Terlepas
dari berbagai kontroversi tentang perjalanan rezim Orde Baru, harus diakui
bahwa Orde Baru paling tidak telah meletakkan dasar-dasar perekonomian bagi
rezim selanjutnya. Kondisi politik yang relatif stabil menjadi modal bagi
tumbuhnya perekonomian secara baik.
10. Perekonomian Indonesia di Era Jokowi-JK
Masyarakat
Indonesia telah menilai kondisi perekonomian di satu tahun era pemerintahan
Joko Widodo dan Jusuf Kalla semakin memburuk. Hal ini berkaitan dengan isu-isu
utama lainnya yaitu kondisi politik nasional, penagakan hukum, keamanan
nasional dan pemberantasan korupsi yang sangat buruk. Kondisi ekonomi Indonesia
sekarang bagi sebagian besar masyarakat dinilai buruk dengan 46,11% disbanding
tahun sebelumnya. Penilaian ini juga tidak lepas dari masyarakat Indonesia yang
semakin hari banyak sekali pengangguraan dan mahalnya harga kebutuhan pokok
yang semakin hari semakin meningkat tajam. Selain itu, masyarakat juga menilai
Jokowi – JK tidak serius dalam mengatasi pelemahan rupiah terhadap dolar yang
akhirnya bias tembus mencapai diatas RP 14.000/USD. Pemerintahan menargetkan
bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu sebesar 5,5% tetapi yang terjadi
tidaklah sama melainkan Indonesia memiliki pertumbuhan yang sangat lemah.
Untuk
memulihkan perekonomian Indonesia Jokowi telah melakukaan beberapa gebrakan
sensitive seperti, memotong subsidi BBM sebesar 30% dan menghemat anggaran
Negara sampai Rp 100 Triliun untuk tahun depan. Jokowi juaga mengganti beberapa
pejabat penting yang sangat membantu perekonomian, seperti Amien Sunaryadi dan
Faisal Basri yang akan mengawasi pengelolaan minyak dan gas.seperti yang
diketahui oleh masyarakat Indonesia bahwa mereka berdua adalah pengamat dan
aktivis anti korupsi. Tidak hanya 2 pejabat yang diganti oleh Jokowi tetapi
banyak sekali. Semenjak menganti pejabat – pejabat penting perekonomian
Indonesia mulai membaik tetapi pemberantasan korupsi tidak terlalu membaik
malah makin memburuk.
1.
pengertian air laut kepulauan indonesia
Alur
Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) adalah Alur laut yang ditetapkan sebagai alur
untuk pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan berdasarkan konvensi hukum
laut internasional. Alur ini merupakan alur untuk pelayaran dan penerbangan
yang dapat dimanfaatkan oleh kapal atau pesawat udara asing diatas laut
tersebut untuk dilaksanakan pelayaran dan penerbangan damai dengan cara normal.
2.
jelaskan alur laut kepulauan indonesia
ALKI
I : Selat Sunda – Selat Karimata – Laut Natuna – Laut Cina Selatan
ALKI
II : Selat Lombok – Selat Makassar – Laut Sulawesi
ALKI
III-A : Laut sawu – Selat Ombai – Laut Banda (Barat Pulau Buru) – LAut Seram
(Timur Pulau Mongole) – Laut Maluku – Samudera Pasifik
ALKI
III-B : Laut Timor – Selat Leti – Laut Banda (Barat Pulau Buru) – Laut Seram
(Timur Pulau Mongole) – Laut Maluku – Samudera Pasifik
ALKI
III-C : Laut Arafuru – Laut Banda (Barat Pulau Buru) – Laut Seram (Timur Pulau
Mongole) – Laut Maluku – Samudera Pasifik
3.tujuan
alur laut kepulauan indonesia
untuk pelayaran dan penerbangan yang dapat
dimanfaatkan oleh kapal atau pesawat udara asing diatas laut tersebut untuk
dilaksanakan pelayaran dan penerbangan damai dengan cara normal. Penetapan ALKI
dimaksudkan agar pelayaran dan penerbangan internasional dapat terselenggara
secara terus menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang oleh
perairan dan ruang udara teritorial Indonesia
4.pelanggaran
yang timbul di ALKI
insiden
3 Juli antara pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat (F-18) dan pesawat
tempur Indonesia (F-16) di Laut Jawa
TNI-AU
menemukan limbah-limbah pembuangan di jalur AlKI III
D.
POTENSI DAN
PENGOLAHAN SUMBER DAYA KELAUTAN DI INDONESIA
1. Potensi
Sumber Daya Kelautan di Indonesia
Potensi sumber daya laut Indonesia yaitu
:
·
Luas laut
Indonesia yang sangat luas
·
Letak laut Indonesia
yang strategis yaitu menjadi jalur perdagangan internasional
·
Beraneka
ragamnya biota laut di dalamnya
2. Pengolahan
Sumber Daya Kelautan di Indonesia
Cara di Indonesia mengolah sumber daya
lautnya yaitu :
·
Banyaknya tersedia
pelabuhan perdagangan internasional
·
Banyaknya tempat
konservasi biota laut untuk menjaganya
·
Banyaknya
nelayan penangkap ikan
·
Banyaknya tempat
pengolahan bahan pangan berbahan dasar ikan
3. Masalah
Dalam Potensi dan Pengolahan Sumber Daya Kelautan di Indonesia
Masalah yang dialami diantaranya :
a. Banyaknya
ilegal fishing
b. Perubahan
iklim global
E.
PARIWISATA
BAHARI INDONESIA
1. Taman
Nasional Bunaken.
2. Kepulauan Seribu,
DKI Jakarta.
3. Pulau Nias
dan Kepulauan Mentawai, Sumatera.
4. Ujung Kulon
dan Anak Krakatau, Banten.
5. Kepulauan Raja
Ampat, Papua Barat.
6. Kepulauan Wakatobi,
Sulawesi Tengah.
7. Barelang,
Kepulauan Riau.
8. Kepulauan
Padaido, Papua.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan yang dapat ditarik oleh penulis adalah :
1. Indonesia
terbukti berpotensi menjadi poros maritim dunia
2. Indonesia
memiliki sumber daya kelautan yang sangat patut untuk di kelola dan di
manfaatkan
Dengan
adanya makalah ini diharapkan dapat mewujudkan negara Indonesia untuk menjadi
negara poros maritim dunia dengan menimbang potensi dan wilayah yang strategis.
Serta dibutuhkannya studi lebih lanjut mengenai hal tersebut.
Like, Share, and Subscribe my channel ( aad.ahmad )

Komentar
Posting Komentar